Beranda yang Menyimpan Rindu

Setiap musim mudik datang, bukannya bahagia, Mbah Mudji—sapaan akrab bagi Kakek Mudjiono—justru sering dilanda kesedihan. Ada saja yang membuat suasana Lebarannya terasa kurang lengkap dibandingkan orang-orang di desa sekitarnya.

Selain anak-anaknya yang jarang pulang, setiap tahun pria berusia 85 tahun itu selalu kesulitan berbincang dengan cucu-cucunya yang datang dari Jakarta. Sehari-hari ia hanya menggunakan bahasa Jawa untuk menyapa tetangga dan kerabat sekitar. Kegemarannya menonton wayang kulit dan mengikuti berbagai kegiatan budaya Jawa membuat waktunya habis di kampung. Ia tak pernah merasa perlu mengenal logat kota yang kini menjadi bahasa keseharian cucu-cucunya.

Mbah Mudji juga tidak suka bepergian. Kakinya yang renta sudah tak mampu mengikuti langkah cepat orang-orang kota yang selalu terburu-buru. Hidupnya sederhana; pagi menyapu halaman, siang duduk di beranda memandangi sawah, dan malam mendengarkan siaran wayang dari radio tua yang suaranya kadang berdesis.

Steven dan Clara, cucunya dari anak pertama, memang tidak lahir di Yogyakarta. Bagi Mbah Mudji, melihat keduanya seperti mengobati rindu yang tak pernah benar-benar tuntas. Kadang-kadang matanya berkaca-kaca hanya karena memandangi mereka.

Steven, menurutnya, sangat mirip dirinya ketika muda. Bentuk wajahnya sama, hanya gaya rambutnya membuat Mbah Mudji teringat foto-foto anak Belanda nakal yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu.

Berbeda dengan Clara. Gadis berusia sembilan belas tahun itu jarang mengobrol dengan sang kakek. Hampir sepanjang hari ia berada di kamar, sibuk dengan ponselnya. Jemarinya tak berhenti menari di layar, memeriksa media sosial, mengunggah foto, atau menghitung jumlah tanda suka yang didapatnya.

Sesekali terdengar keluhannya dari dalam kamar ketika sinyal internet di desa ayahnya tak secepat jaringan yang biasa ia nikmati di kafe-kafe Kemang. Dua cucu kesayangannya itu memang tak sanggup berlama-lama mendengarkan dongeng-dongeng sang kakek. Mereka juga sering tersenyum canggung saat Mbah Mudji memanggil dengan sebutan-sebutan Jawa yang penuh kasih.

“Kuno, Mbah. Zaman sekarang beda,” kata mereka suatu ketika.

Mbah Mudji hanya mengangguk pelan. Tak apa, pikirnya. Melihat mereka tumbuh sehat saja sudah cukup mengobati rindunya selama setahun.

Anak-anak yang Menjadi Bagian dari Jakarta

Kini Mbah Mudji hanya tinggal berdua dengan istrinya. Kedua anaknya sudah menetap di Jakarta dan membangun kehidupan di sana. Keluarga mereka hanya lengkap saat musim mudik tiba. Itupun tidak selalu terjadi setiap tahun.

Kadang anak-anaknya hanya menelepon saat ada waktu luang, bercerita tentang rapat, target pekerjaan, kemacetan, dan gedung-gedung tinggi yang mengelilingi kehidupan mereka. Anak-anaknya seolah telah menjadi bagian dari Jakarta.

Mereka sudah tak lagi bercerita tentang hamparan sawah di belakang rumah. Tak lagi mengenang Pantai Parangtritis tempat mereka bermain saat kecil. Bahkan pohon mangga yang dulu mereka panjat bersama kini jarang disebut dalam percakapan.

Padahal Mbah Mudji sering meminta mereka pulang.

“Le, balik Jogja sik. Aku iki wis sepuh…” katanya suatu hari.

Namun ia sudah hafal jawaban yang akan diterimanya.

“Pak, nek sakit tinggal telepon dokter sing tak bayar. Aku lagi akeh gawean. Durung iso mulih.”

Mbah Mudji hanya mampu menarik napas panjang. Dadanya sesak, tetapi ia tak pernah marah. Di akhir setiap percakapan, ia selalu mendoakan kesehatan dan kesuksesan anak-anaknya.

Begitulah kasih orang tua. Sering kali mereka menyimpan kecewa di dalam hati, tetapi yang keluar dari bibirnya tetap doa.

Sebelum Waktu Habis

Di usia senjanya, Mbah Mudji sebenarnya tidak meminta banyak hal. Ia tidak menginginkan rumah besar. Tidak menginginkan uang kiriman. Tidak pula meminta hadiah mahal.

Ia hanya ingin berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

Kadang, saat duduk di beranda menjelang magrib, ia berkata pelan kepada istrinya.

“Mbokmenawa ora suwe maneh Gusti Allah nimbali aku.”

Barangkali tak lama lagi Tuhan memanggilku.

Lalu ia terdiam, menatap jalan desa yang mulai sepi. Dalam hatinya hanya ada satu harapan sederhana: sebelum ajal datang, ia ingin sekali lagi melihat anak-anaknya duduk di ruang tamu itu. Mendengar suara cucu-cucunya berlarian di halaman. Merasakan rumah tua itu hidup seperti dahulu.

Namun waktu terus berjalan.

Dan kerinduan tetap tinggal.

“Ya wis, Le… sak sempaté wae.”

Tak apa, Nak. Pulanglah saat sempat.

Mbah Mudji menutup telepon. Tangannya yang keriput mengusap sudut mata yang basah. Di luar rumah, angin sore menggerakkan daun-daun kelapa.

Sementara di dalam dada seorang ayah tua, rindu kembali belajar untuk bersabar.