Dalam politik, tidak semua orang yang berada dekat dengan presiden otomatis menjadi negarawan komunikasi. Kedekatan dengan pusat kekuasaan memang memberi akses, tetapi tidak selalu melahirkan kedalaman. Di sinilah perbandingan antara Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal menjadi menarik.
Bukan untuk merendahkan Teddy. Bukan pula untuk memuja Dino secara berlebihan. Tetapi untuk menakar satu hal penting: kualitas komunikasi kekuasaan.
Teddy hari ini berada di posisi strategis sebagai Sekretaris Kabinet. Ia menjadi salah satu wajah komunikasi Istana dalam menjelaskan kebijakan, agenda presiden, dan berbagai isu yang menyedot perhatian publik. Posisi itu bukan jabatan kecil. Di tengah pemerintahan yang membawa banyak program besar, seorang Sekretaris Kabinet harus mampu menjadi penerjemah kebijakan yang jernih, bukan sekadar pembela kekuasaan.
Masalahnya, publik tidak hanya menilai jabatan. Publik menilai kapasitas.
Ketika Teddy merespons kritik Dino Patti Djalal soal intensitas lawatan luar negeri Presiden Prabowo, terlihat perbedaan kelas komunikasi antara keduanya. Dino menyampaikan kritik dari sudut pandang diplomasi, efektivitas perjalanan, manfaat, urgensi, dan persepsi publik. Ia berbicara sebagai diplomat senior yang pernah berada di lingkaran presiden, memahami kerja komunikasi internasional, dan punya pengalaman panjang membaca panggung diplomasi.
Teddy menjawab sebagai pejabat Istana. Itu wajar. Ia punya tugas membela kebijakan presiden. Tetapi jawaban pejabat tidak cukup hanya membantah. Ia harus mampu meyakinkan.
Di sinilah pertanyaan “Teddy bukan kelas Dino?” muncul.
Dino Patti Djalal bukan sekadar komentator politik. Ia pernah menjadi juru bicara presiden, diplomat karier, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, dan Wakil Menteri Luar Negeri. Pengalaman itu membentuk cara bicara yang berbeda. Ia tidak hanya memproduksi kalimat, tetapi juga membawa bobot institusional, pengalaman diplomatik, dan memori kerja negara.
Sementara Teddy, sejauh ini, lebih dikenal publik sebagai figur yang tumbuh dari kedekatan dengan Prabowo. Ia pernah menjadi ajudan, lalu masuk ke posisi strategis di pemerintahan. Itu bukan sesuatu yang otomatis salah. Banyak pejabat besar memulai karier dari lingkar dekat pemimpin. Tetapi kedekatan bukan pengganti kapasitas.
Dalam komunikasi politik, ada perbedaan besar antara loyal dan kompeten.
Loyalitas membuat seseorang dipercaya oleh atasan. Kompetensi membuat seseorang dipercaya oleh publik.
Teddy mungkin sangat dipercaya Prabowo. Tetapi tantangannya adalah apakah ia juga mampu membangun kepercayaan publik secara luas. Sebab menjelaskan kebijakan negara tidak sama dengan menyampaikan pesan internal kepada lingkar kekuasaan. Publik membutuhkan argumentasi, data, konteks, dan ukuran keberhasilan yang bisa diuji.
Jika kritik dijawab hanya dengan kalimat bahwa perjalanan presiden membawa manfaat, maka pertanyaan publik belum selesai. Manfaat apa? Berapa nilainya? Siapa yang menikmati? Berapa biaya yang keluar? Apa indikator keberhasilannya? Bagaimana tindak lanjutnya? Apakah investasi yang diklaim benar-benar terealisasi atau baru sebatas komitmen?
Pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab dengan gaya komunikasi yang terlalu defensif.
Dino, dengan segala kekurangan dan kepentingannya, memahami satu hal: diplomasi bukan hanya soal berangkat ke luar negeri. Diplomasi adalah soal hasil, persepsi, posisi tawar, dan manfaat konkret. Lawatan luar negeri presiden memang penting, tetapi tetap harus diuji. Apalagi ketika pemerintah berbicara tentang efisiensi anggaran, sementara perjalanan internasional kepala negara terus menjadi sorotan.
Teddy seharusnya tidak cukup menjawab kritik dengan nada membela. Ia perlu menjawab dengan standar yang lebih tinggi: membuka data, menjelaskan urgensi, membandingkan biaya dan manfaat, serta menunjukkan capaian yang dapat diverifikasi.
Sebab semakin dekat seseorang dengan presiden, semakin besar kewajibannya untuk tidak terdengar seperti corong kekuasaan.
Di titik ini, Dino tampak lebih matang karena terbiasa bekerja dalam ekosistem diplomasi dan komunikasi negara. Ia tahu bahwa kritik tidak selalu harus dibalas dengan pembelaan keras. Kritik bisa dijawab dengan data, ketenangan, dan argumentasi yang rapi.
Teddy masih tampak berada dalam fase membuktikan diri. Ia punya panggung besar, tetapi belum tentu punya bobot yang sama. Ia punya akses kepada presiden, tetapi akses tidak otomatis sama dengan otoritas intelektual. Ia punya jabatan, tetapi jabatan tidak otomatis menghasilkan kedalaman diplomatik.
Inilah yang membuat perbandingan itu tidak bisa dihindari.
Dino berbicara dari pengalaman panjang. Teddy berbicara dari posisi kekuasaan hari ini.
Dino punya rekam jejak diplomasi. Teddy punya kedekatan politik.
Dino terbiasa menjadi komunikator strategis. Teddy sedang belajar menjadi wajah komunikasi Istana.
Perbandingan ini mungkin terasa tidak nyaman bagi pendukung pemerintah. Tetapi justru di situlah kritik publik diperlukan. Negara tidak boleh dijalankan hanya oleh orang-orang yang dekat dengan presiden. Negara harus dijalankan oleh orang-orang yang mampu menjelaskan kebijakan secara masuk akal kepada rakyat.
Kritik terhadap Teddy bukan berarti ia harus gagal. Justru sebaliknya, kritik ini penting agar ia naik kelas. Jika ia ingin tidak selalu dibandingkan dengan tokoh seperti Dino, maka ia harus membuktikan dirinya dengan kualitas komunikasi yang lebih kuat.
Pertama, Teddy harus lebih banyak membawa data, bukan sekadar narasi.
Kedua, ia harus menjawab kritik dengan substansi, bukan hanya pembelaan.
Ketiga, ia harus menunjukkan bahwa komunikasi Istana bukan alat propaganda, melainkan ruang akuntabilitas.
Keempat, ia harus berani menjelaskan biaya dan manfaat setiap kebijakan besar Presiden secara terbuka.
Kelima, ia harus memahami bahwa publik hari ini tidak mudah diyakinkan hanya dengan klaim keberhasilan.
Di era digital, setiap pernyataan pejabat akan diuji. Setiap klaim akan dibandingkan. Setiap angka akan ditagih. Setiap pembelaan yang tidak kokoh akan menjadi bahan kritik baru.
Karena itu, jika Teddy ingin dianggap setara dengan komunikator negara kelas Dino Patti Djalal, ia harus keluar dari bayang-bayang sebagai orang dekat presiden. Ia harus membangun kualitasnya sendiri sebagai pejabat publik.
Teddy tidak cukup hanya terlihat sigap. Ia harus terlihat matang.
Tidak cukup hanya loyal. Ia harus kredibel.
Tidak cukup hanya membela presiden. Ia harus menjelaskan negara kepada rakyat.
Pada akhirnya, pertanyaan “Teddy bukan kelas Dino?” bukan semata soal siapa lebih hebat. Ini soal standar komunikasi kekuasaan. Dalam negara demokrasi, pejabat Istana tidak boleh hanya pandai menjaga citra presiden. Ia juga harus pandai menjaga kepercayaan publik.
Sebab kekuasaan yang hanya sibuk membela diri akan kehilangan wibawa.
Kekuasaan yang mampu menjawab kritik dengan data, ketenangan, dan akuntabilitas akan lebih sulit digoyahkan.
Teddy masih punya waktu untuk naik kelas.
Tetapi untuk saat ini, jika ukurannya adalah kedalaman diplomasi, pengalaman komunikasi strategis, dan kematangan membaca kritik publik, Dino Patti Djalal memang masih berada di level yang berbeda.





