Di sebuah gubuk sederhana di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, tiga anak kecil menjalani hari-hari yang jauh dari kata layak.
Mereka adalah Muhammad Ali Farizi, M. Al Fajrin, dan Faujan. Usia mereka masih sangat belia. Namun, di umur yang seharusnya dipenuhi perhatian orang tua, sekolah, bermain, dan makanan yang cukup, ketiganya harus tumbuh dalam keterbatasan.
Mereka tinggal bersama neneknya setelah orang tua mereka merantau ke luar daerah. Rumah yang mereka tempati bukan rumah yang kokoh. Hanya gubuk reyot yang memperlihatkan betapa kemiskinan sering kali tidak cukup hanya dibaca dari angka statistik.
Yang lebih memilukan, keluarga ini disebut belum tersentuh bantuan sosial. Bantuan yang selama ini menjadi harapan banyak warga miskin justru belum sampai kepada mereka. Salah satu penyebabnya adalah persoalan administrasi kependudukan. Data mereka belum sepenuhnya tercatat dengan baik, bahkan ada yang belum masuk atau berbeda dalam kartu keluarga.
Di sinilah persoalan kemiskinan terlihat lebih telanjang. Kadang yang membuat orang miskin tidak tertolong bukan hanya karena tidak ada program, tetapi karena mereka tidak terlihat dalam sistem.
Padahal, bagi keluarga seperti ini, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Bantuan bisa berarti beras di dapur, perbaikan atap yang bocor, pakaian yang layak, biaya sekolah, atau sekadar kepastian bahwa mereka tidak dibiarkan sendiri.
Kisah tiga bocah ini kemudian mendapat perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi NTB menyatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Pemerintah Kabupaten Bima untuk memastikan penanganan dilakukan. Kondisi keluarga tersebut juga disebut masuk kategori miskin ekstrem, dengan tempat tinggal yang tidak layak huni.
Namun, pertanyaan penting tetap harus diajukan: mengapa kasus seperti ini sering baru mendapat perhatian setelah menjadi sorotan publik?
Kemiskinan seharusnya tidak menunggu viral. Anak-anak yang hidup di gubuk reyot seharusnya tidak perlu menunggu kisahnya tersebar lebih dulu agar negara datang mengetuk pintu.
Kasus di Bima ini menjadi pengingat bahwa penanganan kemiskinan tidak cukup hanya dengan target, rapat, dan angka penurunan. Yang lebih penting adalah memastikan data benar, bantuan tepat sasaran, dan petugas negara benar-benar hadir sampai ke rumah-rumah warga paling rentan.
Karena bagi tiga bocah di Bima itu, kemiskinan bukan wacana. Kemiskinan adalah tempat mereka tidur, makanan yang tidak selalu ada, dan masa depan yang sedang menunggu diselamatkan.
